Selasa, 04 Desember 2007

Spectum

Crossing The Line

Daniel Gordon, UK, 90 min, 2006, Narrated by: Christian Slater

Prod: VeryMuchSo Production.

James Dresnok adalah seorang pembelot. Pada tahun 1962, di saat Perang Dingin sedang pada puncaknya, tentara Amerika ini memutuskan untuk menyeberang, mengosongkan posisinya sebagai penjaga perbatasan di Zona Demiliterisasi di Korea Selatan, dan bergabung dengan Republik komunis di utara. Sampai hari ini, dia masih mengingat diam-diam tentang alasannya pembelotannya. Pada suatu saat di Korea Utara, dia dan tiga orang pembelot lainnya, mempublikasikan brosur propaganda yang menunjukkan arah hidup yang sedang mereka kendalikan. Mereka juga bermain di film dan diperlakukan sebagai pahlawan nasional. James Dresnok adalah yang terakhir dari tiga pembelot ini yang masih tinggal di Korea Utara. Dia sudah tidak melakukan kontak dengan orang-orang dari luar negeri sejak tanggal 1962. Dia menceritakan pengalamannya pertama kali di dalam film ini.

James dresnok is a deserter. In 1962, when the Cold War was at its height, this US soldier decided to change sides, deserting his post as a border guard in South Korea Demiliterized zone and fleeing to the communist people’s Republic in the north. To date he has allways remined silent about the reasons for his desertion. Once in north Korea he and three orthers deserter published propaganda brochures describing the contained lives they where leading there. They also appeared in films and were treated at national heroes. James Dresnok is the last of these three deserter still living in north Korea. He has not had any contract with visitor from abroad since 1962. He tells his story from the first time in this film. James dresnok grew up as an orphan in Virginia. Having left school without time stationed in Germany, he was posted to the demilitarised zone between south an north Korea, which,at the time, was the most dangerous border in the world. James dresnok has live in Pjongjang ever since his desertion over 40 years ago. He served in the Korean peoples army, where he was an English teacher. He has learnt the language and adapted to life and provides some astonishing insights into a social largely unknown to the rest of the world.

Selasa, 11 Des, 20.15, Vredeburg 1

Kamis, 15 Des, 14.30, LIP


In Debt We Trust: America Before The Bubble Bursts

Danny Schechter, USA, 2007, 90 min

Film ini mengisahkan tentang banyaknya orang Amerika yang terjebak dalam hutang. Film ini adalah konfrontasi jurnalistik dengan apa yang dikatakan Kevin Phillips, mantan penasehat Reagan, sebagai “financialization” – sebuah kekuatan besar dikelompok industri dunia kartu kredit. “Pada saat seorang Amerika membuat kartu kredit, ada cerita mendalam di balik itu: kekuasaan berpindah tangan kepada tangan-tangan yang lain, dengan konsekuensi yang menakutkan. Film ini menelisik prakter kotor perusahaan kartu kredit, pelobi, konglomerat media dan bahkan administrasi di kantor Bush sendiri yang melakukan praktek kolusi untuk menderegulasi industri ini. Isu kartu kredit ini berkembang menjadi masalah isu global bersamaan dengan semakin banyakya orang Amerika yang membeli mimpi yang salah.

In Debt We Trust is documentary investigates why so many Americans are being strangled by debt. It is a journalistic confrontation with what former Reagan advisor Kevin Phillips calls "Financialization" – the "powerful emergence of a debt and credit industrial complex." While many Americans may be "maxing out" on credit cards, there is a deeper story: power is shifting into fewer hands...with frightening consequences. The film reveals the predatory practices of the cabal of credit card companies, lobbyists, media conglomerates and the Bush administration itself who have colluded to deregulate the lending industry – ensuring that a culture of credit dependency can flourish. The debt issue is an increasing global problem as more people buy into America's false dreams.

Kamis, 13 Des, 19.00, Vredeburg 2

Jum’at, 14 Des, 20.30, Vredeburg 1


Mystic Ball

Greg Hamilton, Canada-USA / Burma, 83 min Prod: Black Rice Productions , 2006

Chinlone, olahraga traditional Myanmar, menjadi fokus dari film ini. Sebuah olahraga beregu tanpa lawan, setengah menari, setengah meditasi. Meski sangat sulit, hampir semua orang Burma memainkannya. Film ini mengikuti transformasi sang pembuat film Greg Hamilton dari sekedar orang luar yang terobsesi mempelajari chinlone hingga menjadi salah satu anggota regu yang paling disegani. Lewat chinlone, Greg menemukan hal-hal lain yang tak diduganya: keluarga, masyarakat dan kasih sayang.

Chinlone, a traditional sport of Myanmar, takes centre stage in this film. It's a team sport without an opposing team, part dance, part meditation. The game is back-breakingly difficult, yet is played by almost all Burmese. The film follows filmmaker Greg Hamilton's transformation from outsider obsessed with learning chinlone to accomplished teammate of the masters of the game. Through chinlone, Greg discovers things he didn't even know he was looking for: family, community and love.

DOCNZ International Documentary Film Festival, Bangkok International Film Festival, Durban International Film Festival, Krasnagorski - Russian International Festival of Sport Films, Leipzig International Documentary Film Festival, Rio de Janeiro International Film Festival, Calgary International Film Festival, Hot Docs International Documentary Film Festival

Rabu, 12 Des, 19.00, Vredeburg 1,

Jumat, 14 Des, 14.30, LIP


The Cat of Mirikitani

Linda Hattendorf, USA 2006, 74 min.

Make art not war” adalah moto hidup Jimmy Mirikitani, seorang pelukis keturunan Jepang yang dilahirkan di California dan dibesarkan di Hiroshima yang akhirnya hidup di jalanan kota New York. Linda Hatendorf mulai mendokumentasikan pertemuan-pertemuan mereka setelah tragedi WTC. Linda menemukannya masih di jalanan, bernafas di udara yang penuh debu. Dan Linda pun mulai membantu Mirikitani, setelah mendengar kisahnya yang menyedihkan. Mirikitani dimasukkan ke kamp konsentrasi di Tule Lake, pada 1942–1946, lalu dipaksa menghapus kewarganegaraan Amerikanya, belum lagi dengan keluarganya yang menjadi korban pengeboman Hiroshima.

Make art not war” is Jimmy Mirikitani's motto. He's a fiercely independent octogenarian artist born in California and raised in Hiroshima but ended up living on the streets of New York City. Local filmmaker, Linda Hattendorf first noticed him outside a Soho grocery store, bundled against the weather, concentrating on his colourful drawings. She began documenting their meetings. On 9/11/01, after the World Trade Center collapses, Linda finds him still outdoors, coughing in the toxic dust. Although he has refused help before, he accepts her offer of a place to stay. With her role suddenly changed from witness to advocate, Linda learns more about Jimmy's painful history: from his internment in Tule Lake from 1942- 1946, to the US citizenship he was pressured to renounce, to his family killed in the bombing of Hiroshima. She also makes some happy discoveries: Janice Mirikitani, the poet laureate of San Francisco, is a distant relative and there may be others. Ultimately, with Linda's help, Jimmy brings his life full circle and comes to terms with the past.

Kamis, 13 Des, 16.00, LIP

Sabtu, 15 Des, 13.00, LIP


Aus der Zeit (Out of Time)

Harald Friedl , 80 min, Austria, prod. Harald Friedl, 2006

Aus der Zeit melihat Vienna dari sebuah sudut pandang yang berlawanan, merekam keseharian empat orang pemilik toko tua: pemilik toko barang-barang kulit, toko obat, toko pakaian pria, dan toko daging. Hari-hari di sini begitu terasa khusus, dua dari toko itu harus ditutup.

Aus der Zeit takes a look at Vienna from the opposite angle, filming a few days in the life of four old-fashioned artisan shop-keepers: a fine-leather goods dealer, a drugstore owner, a haberdasher and a butcher. These days are special, as for two of them their businesses are about to close. The exercise is not a formal one: in the distance separating the modern world heralded in by Ruttman’s Berlin and the suspended time typical of the old shops in Harald Friedl’s film, we are able to measure what has been lost, what Ruttman’s film had already abolished, starting with human beings—who return to occupy the centre of the frame—and their role in history.

Cinéma du Réel, Seattle International Film Festival, Flahertiana Festival, Calgary International Film Festival, Vancouver International Film Festival, Semaine du film ethnologique et technique de Basse Normandie,

Rabu, 12 Des, 20.30, Vrederburg 1

Jumat, 14 Des, 13.00, LIP


An American Opera

Director: Thomas McPhee, USA 2007, English, 92 min

Tragedi Badai Katrina memunculkan kasus penelantaran binatang peliharaan yang terburuk dalam sejarah Amerika. Puluhan ribu rumah dengan binatang peliharaan ditinggalkan begitu saja oleh para pemiliknya yang dipaksa mengungsi dengan segera. Tom McPhee pergi ke Gonzales, Louisiana, tanpa tahu apa yang bisa dikerjakannya. Dia mendaftar menjadi volunteer di Dixon Expo Center dan menyempatkan diri merekam rumah penampungan binatang yang diselamatkan dari banjir bandang yang menerjang New Orleans. 18 bulan kemudian, Tom mencoba menelusuri rangkaian peristiwa yang masih tercecer dan tidak jelas itu, mencoba mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

In the aftermath of Hurricane Katrina, America suffered the worst domesticated animal crisis in its history. Tens of thousands of house pets were left to perish in neighborhoods all across the gulf when their owners were forced to evacuate without them. Tom McPhee went to Gonzales, Louisiana not knowing how he would help, just knowing he needed to help somehow. He volunteered at the Lamar Dixon Expo Center and by chance found himself spending the next four days taking picture after picture of thousands of house pets rescued from flooded New Orleans. Over the next 18 months Tom would document this unparalleled historic event as it unfolded, trying to understand where it all went wrong.

Gold Camera 40th Annual US International Film and Video Festival, Gold Remi 40th Annual Worldfest Independent Film Festival

Kamis, 13 Des, 13.00, Vredeburg 1


The Jak

Andibachtiar Yusuf Indonesia, 77min, Bogalakon Pictures,2007.

Jakarta, ibukota Indonesia, ratusan etnis, ribuan masalah, jutaan harapan, dan 16 juta populasi. Hanya ada satu hal yang membuat mereka bersatu, SEPAK BOLA! Film ini adalah dokumenter pertama Indonesia yang berhasil masuk ke jaringan bioskop komersial di Indonesia.

Jakarta, The capital city f Indonesia, hundreds of ethnics, millions of hopes and 16 million populations. Only one thing can make them together: Football! This is Indonesian's first documentary to have a cinema release.

Jumat, 14 Des, 15.30, Vredeburg 2

Sabtu, 15 Des, 16.00, Vredeburg 1


En lo Escondido

(Those Waiting In The Dark)

Nicolás Rincón Gille, 77 min, Belgium, prod. VOA, CBA, 2006

Malam hari di pedalaman Kolombia adalah sesuatu yang benar-benar berbeda. Ada sebuah kekuatan misterius yang menunggu di kegelapan. Carmen adalah salah satu yang pernah mengalaminya, di malam hari, lebih bijak untuk melebarkan telinga dan menunggu di rumah. Carmen menjalani hidup yang tidak mudah. Tapi telinga Carmen masih sehat, dia masih bisa dengan jelas membedakan suara-suara aneh di luar sana. Carmen hanya hanya bisa menceritakan, bagaimana dia bertahan membesarkan anak-anaknya, bertahan menghadapi kenyataan hidup, dan sesuatu yang tak terlihat di luar sana.

At night, the Colombian countryside undergoes a transformation. Those who prowl around can grant or take away magic powers. Carmen knows, she has experienced it: at night, it’s wiser to prick up your ears and stay home, when you have lost the power to tell the future. Carmen’s life has not been easy, with a violent husband and one pregnancy after another. But she still knows how to recognise the sound of a passing witch… Carmen’s partner, one of her employees, can find some amusement in the village. She can only recount, in shivers or smiles, the chapters of her survival, the pride of having raised children, her fragile resistance against the crushing forces of this world, and the invisible one...

Joris Ivens Award and Library Award, International Competition Cinéma du Réel 2007, Rencontres Cinémas d’Amérique Latine de Toulouse,

Jumat, 14 Des, 20.00, Kinoki


The Boy Inside

Marianne Kaplan, USA / 47, 2006

Marianne Kaplan adalah seorang filmmaker yang juga orang tua dari anak berusia 12 tahun, Adam, pengidap autis. Adam mengidap Asperger Syndrome, sebuah bentuk dari high-functioning autism yang dicirikan dengan perilaku sosial dan emosional yang tidak sesuai. Tidak mampu bersosialisasi secara normal dengan teman-teman sekelasnya, sekolah menjadi mimpi buruk bagi Adam. Dia seringkali disingkirkan, dan meninggalkan sekolahnya setelah seorang lelaki mengacung-acungkan pisau ke arahnya.

Marianne Kaplan turns the camera on her 12-year-old son Adam in this powerful documentary about growing up with autism. Adam has Asperger Syndrome, a form of high-functioning autism characterized by socially and emotionally inappropriate behavior. Unable to socialize normally with his classmates, school is a nightmare for Adam. He is regularly excluded or bullied, and left his last school after a boy pulled a knife on him. A rare and intimate portrait of an increasingly common form of autism, The Boy Inside follows Adam’s dramatic family life as he struggles against the odds to graduate elementary school and make sense of bullies, girls and life in the real world.

Vancouver International Film Festival, Yorkton Film and Video Festival, One World Film Festival, Reel 2 Real Film Festival, 29th Annual Big Muddy Film Festival, 9th Seoul International Youth Film Festival, The 28th Durban International film festival, Detroit Docs International Film Festival, etc

Selasa, 11 Des, 21.00, Vredeburg 2

Rabu, 12 Des, 21.00, Kinoki


Ils ne mourraient pas tous mais tous étaint frappés

Sophie Bruneau, France, 80 min, ADR Production, Alter Ego Film/2005

Ketika manusia harus berhadapan dengan organisasi kerja yang membuat mereka diperlakukan sebagai mesin dan dinihilkan kemanusiaannya. Tidak ada yang benar-benar percaya bahwa kemudian hal itu akan melahirkan banyak konsekuensi, menghilangnya kedirian seseorang dan dimulai dari gangguan fisik yang mereka hadapi sebagai akibatnya. Seorang psikolog dan dua dokter dari rumah sakit pemerintah di Paris bertemu dengan orang-orang yang menderita stress akibat hal tersebut.

When people must deal with work chart, which making them threated as machine and nul their humanity. No one believed that it will bear many consequences, disappears it someone x'self and started from physical trouble which they face as as a result. a psikolog and two medical doctors from home governmental pain in Paris meets

Jumat, 14 Des, 17.00, LIP


Small Places Small Homes

Julia Fong, Canada, 60 min, 2006

Film ini mengetengahkan kehidupan imigran keturunan Asia yang memilih untuk tinggal di tengah masyarakat pedesaan di Kanada. Bagaimana keempat keluarga di film ini memilih tempat mereka tinggal dan bagaimana pilihan tersebut mempengaruhi hidup mereka ternyata menunjukkan beberapa kesamaan: rasa kesepian di tengah masyarakat pedesaan Kanada yang mayoritas berkulit putih, pengorbanan yang dilakukan dalam bekerja keras demi membangun hidup baru di negara yang begitu luas, dan apa artinya bagi mereka untuk menjadi warga negara Kanada

This film explores the lives of visible minority immigrants who choose to live in Canadian rural communities. How these four film families profiled in this documentary chose where to live and how this choice has affected their lives reveals common themes: the feeling of isolation in a largely Caucasian rural Canada; the notion of sacrifice, of working very hard at creating a new life in this vast country, and what it means to become a Canadian

Selasa, 11 Des, 15.00, Vredeburg 2


Alguna Tristeza/ Some Kind of Sadness

Juan Alejandro Ramírez, Peru, 41 min, 2006, 35 mm

Pada Olimpiade Berlin di tahun 1936, tim sepakbola Peru berhasil mengalahkan Austria di kualifikasi semi final. Ini adalah sebuah kemenangan yang tidak diharapkan, lalu penyelenggara menganulir kemenangan itu. Sebuah gambaran tentang kemenangan yang dicuri, dari sebuah negara yang dinafikan oleh sebagian besar dunia. Kisah sebuah negara yang terombang-ambing, di mana sudah tidak ada lagi warga negara yang mendapatkan perlindungan dari pemerintahnya.

In the 1936 Berlin Olympic Games, the Peruvian football team beat Austria to qualify for the semi-finals. An unpalatable victory for the Third Reich and for the Olympic Committee… so they cancelled the match. Images of a stolen victory, of a country abandoned to its fate by the rest of the world, like an animal left on the wayside. Images of a nation shaken by the world’s turbulent, unpredictable events, surviving from day to day, where there is no longer anyone at the government’s helm.

Senin, 10 Des, 19.30, Kinoki

Jumat, 14 Des, 17.00, Vredeburg 2


Potosi, the Journey

Ron Havilio, Israel / France, 2007, 246 min

Pada awalnya adalah bulan madu sutradara film ini pada tahun 1970, yang membawa istrinya, lengkap dengan backpack dan kamera, melintasi Andes, Bolivia. Di perjalanan mereka menemukan sebuah pertambangan perak di kota Incas, Potosi, sebuah kota yang dahulu kala pernah menjadi kota besar di dunia. Tiga dekade kemudian, mereka kembali lagi ke sana, dengan kamera dan kali ini dengan tiga orang anaknya. Film ini mendokumentasikan perjalanan ini, merangkai footage yang berhubungan dengan perjalanan pertama. Kenangan melintas bersamaan dengan masa sekarang, menciptakan refleksi yang impresif dan efek waktu yang kental.

The filmmaker's honeymoon trip in 1970 led him and his wife Jacqueline, complete with backpack and camera, all through the Bolivian Andes. On their way they discovered the old silver mining city of the Incas, Potosi, once one of the biggest and most prosperous cities in the world. Three decades later they go back there again with a film camera and their three daughters. The film documents this journey, putting the footage in relation to the photographs taken during the first trip. Memory and the present overlap, creating an impressive reflection on generations and the effects of time.

Rabu, 12 Des, 20.00, Vredeburg 2 (film1)

Kamis, 13 Des, 20.00, Kinoki (film 2)


Stone Time Touch

Gariné Torossian , Canada, Armenia 2007 , 70 min.

Film ini adalah diary si filmmaker Gariné Torossian, mengkolase memori-memori yang hilang dan ekspektasi yang puitis tentang kenyataan dan imajinasi atas Armenia. Dihubungkan dengan perjalanan serang gadis ke tanah asalnya: Armenia, film ini mengkolase gambar-gambar, dipadukan dengan ikon-ikon religious, ritual, perjuangan hidup, dan sejarah. Dengan musik latar pendukung dari trio acapella dari Armenia, yang mewarnai hubungan emosional dia dengan tanahnya, tanah yang bukan milik mereka.

Armenian-Canadian experimental filmmaker Gariné Torossian weaves together a poetic collage of memory, loss and expectation in this essay documentary of a real and imagined Armenia. Interwoven with a young woman's journey to her homeland are the photographs and reflections of Arsinée Khanjian. As Khanjian recounts the powerful stories she was told during her visits to Armenia, she unpeels her own expectations of the "imaginary homeland." This diary-like exploration is layered with religious iconography, ritual, contemporary struggle and the burden of history. The beautifully haunting voices of the Armenian acapella folk trio Zulal underscore the emotional connection the women share to a land that is and is not theirs. An elegiac and sensory investigation into the concepts of home, identity and place. In Armenian and English with English subtitles.

Selasa, 11 Des, 21.00, Kinoki

Jumat, 14 Des, 19.00, Vredeburg 2


Scared Sacred

Velcrow Ripper, Canada, 105 min, 2004

Dapatkah kita menggunakan tragedi sejarah yang paling kelam dan mengubahnya menjadi kekuatan untuk bangkit? Ataukah kita akan menyerah kepada ketidakberdayaan dan ketakutan? Film ini akan mengajak kita menelusuri berbagai ‘Titik Nadir’ di dunia, seperti Auschwitz, Kamboja, New York City dan Afghanistan, di mana terjadi saat terkelam di dalam sejarah manusia. Meski begitu, film ini bukan film yang suram. Kita akan menemukan cerita mengenai harapan, perubahan dan perlawanan.

Can we take the trials of extreme historical situations and transform them into a force of awakening? Or will we succumb to groundlessness and fear? The film will take us on a journey to the pivotal 'Ground Zeros' of the world, places like Auschwitz, Cambodia, New York City, and Afghanistan, among the darkest moments of human history. Yet this is not a gloomy film. We will seek out the stories of hope, of transformation, of resistance. In a world teetering on the edge of self-destruction, award-winning filmmaker Velcrow Ripper sets out on a unique pilgrimage. Visiting the 'Ground Zeros' of the planet, he asks if it's possible to find hope in the darkest moments of human history.

Best Documentary Whistler Inernational Film Fsetival, Special Jury Prize Toronto International Film Fesstival, Canada’s Top Ten Toronto Iternational Film Festival group, Best of The Festival New Orleans International Human Right Festival, Audience Awar Vancouver International Film Festival.

Rabu, 12 Des, 19.00, Kinoki

Sabtu, 15 Des, 16.00, Vredeburg 2


The Last Communist

Amir Muhammad, Prod: Red Films, 90 min, Malaysia, 2006

Chin Peng terlahir pada tahun 1924, dia adalah pemimpin terakhir dari Partai Komunis Malaysia yang dilarang. Dia sekarang tinggal di Thailand karena Pemerintah Malysia tidak pernah mengijinkannya kembali. Film ini memakai sejarah sebagai background, tapi lebih menarik lagi ketika film ini menampilkan bagaimana negara telah berubah semenjak saat Chin Peng masih muda hingga sekarang.

Chin Peng was born in 1924 and is the last leader of the banned Communist Party of Malaya. He now lives in Thailand because the Malaysian government will not allow him to return, despite his repeated attempts to go through the courts. "The Last Communist" uses history as a backdrop, but is more interested in seeing how the country has changed from the time of Chin Peng's youth to now

Jumat, 14 Des, 16.00, LIP


Senkyo / Campaign

Kazuhiro Soda, Japan, 120 min, Prod: Laboratory X, Inc, 2006

Di bawah pengawasan ketat dari partai demokratik liberal, Yamauchi Kazuhiko, seorang pelaku politik pemula mencalonkan diri sebagai kandidat parlemen di kawasan industri Kawasaki. Teman sekolahnya, Soda Kazuhiro memfilmkannya selama masa kampanye. Spontanitas Yamauchi, dalam kampanye keliling kota merupakan ujian tersendiri bagi kapasitasnya. Dari dini hari sampai larut malam, dia mempersiapkan diri dengan poster, megaphone dan selempang, berkeliling di depan supermarket, di jalan-jalan di perumahan dan di stasiun. Dia berjuang untuk meyakinkan para pemilih tentang program yang dirancangnya. Tapi, Yamauchi juga berada dibawah tekanan yang besar dari partainya, bahkan masalah keuangan personalnya pun dipertanyakan. Film ini dibuat dengan metode direct cinema, tidak memuat argumen politis tapi menyediakan gambaran yang cukup untuk melihat apa yang terjadi di jalanan, di dalam mobil, di posko kampanye.

Under the strict eye of the ruling liberal democratic party, the politically inexperienced Yamauchi Kazuhiko run for a parliamentary seat in the industrial city Kawasaki. His schoolmate, the film director Soda Kazuhiro, filmed him during the campaign. Yamauchi's spontaneous, underprepared campaign is a tour de force that takes him to the edge of his capacities. From early in the morning to late at night he sets himself up, armed with posters, a megaphone, and a sash, in front of supermarkets, in neighborhood streets, and at train stations. He tries to convince potential voters of a program that has been drummed into him by others. But he's also under enormous pressure from the party, and the financial strain even puts his private existence in question.

Cinéma du réel 2007, Leeds International Film Festival, Copenhagen Documentary Film Festival, Festival des 3 Continents, Cinema Digital Seoul 2007 Film Festival, Sydney Film Festival, Barcelona Asian Film Festival, Hot Docs Film Festival

Senin, 10 Des, 20.00, Kinoki

Jumat, 14 Des, 20.00, Vredeburg 2


Singapore Gaga

Tan Pin Pin, Singapore, 54 min, 2005

Singapura Gaga adalah sebuah film berisikan nyanyian pujian untuk kegilaan pemandangan Singapura. Film ini mengungkapkan masa lampau dan masa kini Singapura dengan segenap kegemerlapan dan humornya. Di film ini, kita akan mendengar berbagai nyanyian di jalanan, gadis-gadis cheerleader menyanyikan lagu mereka. Film ini adalah dokumenter pertama yang berhasil masuk ke jaringan boskop komersial di Singapura.

Singapore GaGa is a 55-minute paean to the quirkiness of the Singaporean aural landscape. It reveals Singapore's past and present with a delight and humour. We hear buskers, street vendors, school cheerleaders sing hymns to themselves and to their communities. From these vocabularies (including Arabic, Latin, Hainanese), a sense of what it might mean to be a modern Singaporean emerges. This is Singapore's first documentary to have a cinema release.

Selasa, 11 Des, 20.30, LIP


Arcana

Cristóbal Vicente, Chili, 96 mn, 2005

Di Akhir tahun penutupan penjara Valparaiso. Kota di tengah kota yang sangat besar ini, ratusan narapidana memenuhi sel-sel, berjalan dangan santai ke halaman pusat di seberangnya, berkutat dengan kelompok masing-masing. Mesin pengeras suara melaporkan dan memberi pesan. Dalam 150 tahun sejak berdirinya, tempat ini sudah melahirkan bentuk-bentuk yang mengerikan dari “budaya”: himpunan dari praktek, rencana perjalanan, bea keluar masuk, dan juga berbagai dialek. Budaya ini merupakan budaya untuk siapa pun dari luar penjara, suatu jaringan pertemanan, dan tanda bahwa pembuat film hanya dapat mengisyaratkan saja, sebagian besar pun masih bekerja melalui bunyi-bunyi. Penghuni penjara membawa dia untuk mencoba memahami atau berusaha lebih dekat dengan dengan realitas di penjara. Penjara kuno Valpariso akhirnya ditutup pada bulan April 1999.

The final year before the closure of Valparaiso prison. In this huge “town within a town”, hundreds of inmates are crammed into run-down cells, amble across the vast central courtyard, move around the corridors in groups. Loudspeakers mechanically blare out roll calls and orders. In its hundred and fifty years of existence, this city of prisoners has given birth to a terrible form of “culture”: its set of practices, itineraries, customs and dialects. It is a culture opaque for anyone from the “outside”, a network of relationships and codes that the filmmaker can but hint at, mainly through working on sounds. An inmate repeatedly challenges him to understand or even get close to prison reality. The old prison of Valparaiso was finally closed in April 1999.

Selasa, 11 Des, 19.00, LIP


The Red Elvis

Leopold Grün, Germany, 2006, 90 min

Film ini berkisah tentang jatuh bangunnya Dean Reed. Kisah hidupnya yang tragis adalah sebuah mozaik tentang keinginannya untuk sukses dan komitmen politiknya yang naif pada saat dunia sedang dipisahkan dalam dua ideologi besar. Kematian misterius Reed hingga kini masih menimbulkan spekulasi, dan cukup untuk menjadi alasan menengok kembali façade kisah hidupnya dalam showbiz dan aktivitasnya. Film ini juga mengajak untuk menjenguk keluarganya, mewawancarai radio DJ Chucho Fernandez, penulis Isabel Allende, Penyiar radio Amerika Peter Boyles, Aktor Armin Mueller-Stahl, DEFA film director Celino Bleiweiß dan eks politisi GDR.

This film tells the story of Dean Reed's rise and fall. His tragic life is a mosaic dominated by his longing for success and his naïve political engagement at a time when the world was divided by two major ideologies. Reed's mysterious death still gives rise to speculation and is reason enough to take a look behind the of his life of showbiz and protest. Apart from familymembers, other contemporaries looking back on Dean Reed's life in this film include Chilean radio DJ Chucho Fernandez, writer Isabel Allende, American radio host Peter Boyles, actor Armin Mueller-Stahl, DEFA film director Celino Bleiweiß and ex-GDR politician

Sabtu, 15 Des, 19.00, Kinoki


La Traversée

Elisabeth Leuvrey, France, 2006, 56 min, Prod.: Alice Films

Dalam sebuah perjalanan di kapal, menyeberangi laut yang memisahkan antara Prancis dengan Algeria. Jarak yang ditempuh hanya 1 malam untuk tiba di tempat tujuan, namun persoalan yang harus dihadapi tidaklah sesingkat itu. Perjalanan ini membawa masa lalu, kini, dan masa depan menjadi rangkaian perjalanan sejarah, identitas, keadilan, serta kemanusiaan yang terus menjadi persoalan sepanjang zaman.

On a ferry trip crossing the sea separated France and Algiers. A one night crossing is not as simple as many problems faced. The journey caries past, present and future into a chain of history, identity, justice and humanity which is still an all time predicament.

Kamis, 13 Des, 19.00, LIP

Tidak ada komentar: